Ini adalah sepotong kisah tentang salah satu murid senior Yang Chengfu di Beijing, Cui Yishi (juga dikenal dengan nama aslinya Cui Lizhi).

Cui Yishi – Brush Knee Twist Step.

Dua bagian wawancara menurut saya sangat menarik, dan saya terjemahkan di bawah ini.

Bagian pertama, ‘Dan Tian gong’ milik Cui Yishi:

“Di musim panas, kakek saya biasanya akan duduk di halaman rumah kami berlatih taiji nya sambil mengenakan Dalian (jaket tanpa lengan pegulat China). Ketika suasana hatinya sedang bagus, ia akan membiarkan saya merasakan perutnya. Bagi saya, rasanya seolah-olah ada bola karet di perutnya yang bisa bergerak mengikuti tangan Anda. Jika Anda mendorong perutnya, terasa seolah-olah tangan Anda seperti ‘tersedot’ dan Anda tidak bisa menariknya kembali. Kemudian, ‘bola’ tersebut tiba-tiba akan ‘mementalkan’ tangan Anda keluar, mendorong Anda beberapa langkah.

Di waktu yang lain, kami melihat kakekku duduk bertelanjang dada di bangku. Dia telah menempelkan gumpalan adonan ke perutnya secara merata, ketika dia bergerak untuk melakukan ‘seated taiji’, tidak hanya adonan tidak jatuh, tetapi bergerak seiring dengan gerakan perutnya. Ini gongfu yang menakjubkan! Bahkan sekarang, saya tidak benar-benar mengerti bagaimana dia melakukannya. ‘Ini gongfu saya, Anda tidak akan dapat melatihnya, itu metode pelatihan taiji yang disebut Dan Tian Gong, kebanyakan orang normal tidak dapat mempraktekkannya.Aku sudah berlatih sejak aku masih kecil. Dalam ‘push hand’, aku tidak takut orang-orang mendorong langsung pada perut saya, jika mereka melakukannya, mereka tidak akan bisa lolos “.

Hal ini jelas bahwa Taijiquan yang dipraktekkan Cui berisi metode pelatihan yang melatih dan tian secara intens. Apakah metode pelatihan ini masih ada dalam Yang Style atau mereka telah hilang dari waktu ke waktu?

Bagian kedua dari wawancara yang menagkap perhatian mata saya adalah pengalaman keluarga selama Revolusi Kebudayaan:

“Selama Revolusi Kebudayaan, kakek saya diberi label dan dianiaya sebagai ‘kapitalis’, sebuah ‘Anti-Revolusioner Otoritas Akademik’, seperti ibu saya (Cui Xiuchen).

Cui Yishi dan putrinya Cui Xiuchen
Meskipun mereka berdua memiliki gongfu, dalam lingkungan seperti itu, tidak ada yang berani melawan. Suatu hari, aku pulang dari pabrik untuk melihat ibu saya dan kakek telah diikat dan berlutut di tengah-tengah halaman rumah kami, sekelompok Pengawal Merah menggeledah rumah kami. Dalam atmosfer seperti itu, tak seorang pun berani mengucapkan sepatah kata pun. Saya diam-diam berdiri di samping ibuku dan kakekku, berpikir untuk melindungi mereka entah bagaimana caranya. Kakek saya berbisik kepada saya: “Dengan gongfu saya, mereka tidak bisa mengikat saya. Yang harus saya lakukan hanya menggunakan sedikit jin, dan ini akan melonggarkan tali ” sambil mengatakan, ia menggoyangkan tubuhnya sedikit, dan tali tersebut memang menjadi longgar. Ibuku begitu takut dengan hal ini, dia berkata “Jangan bergerak! Jika Anda bergerak satu inci, kita semua mati “Untungnya Pengawal Merah itu tidak menyadari.

Kemudian, ketika Pengawal Merah secara terbuka mencela ibuku dan kakekku, mereka membuat mereka berdua berlutut, kemudian batu bata diletakkan di bawah kaki mereka.Dengan batu bata di tempat, para penjaga kemudian menempatkan tongkat di atas betis masing-masing orang, dan kemudian menyuruh dua orang berdiri di kedua ujung tongkat sehingga mereka menekan seluruh berat badannya kepada tulang keringnya. Kakekku memiliki gongfu kaki yang baik, sehingga otot-otot tulang kering itu bisa mengambil sebagian berat (sehingga batu bata tidak terlalu menekan pada tulang). Ibuku tidak begitu beruntung, dan pingsan beberapa kali karena rasa sakit tersebut.

Selama tahun-tahun Revolusi Kebudayaan, kakek saya tidak hanya menderita penganiayaan fisik, rumahnya juga diobrak-abrik, dan   dia dicela secara terbuka. Seolah-olah ini tidak cukup, dia tidak diizinkan untuk mengajar taiji. Untuk orang seperti kakek saya, yang mana taiji adalah hidupnya, ini mungkin pukulan terberat dari semua. Ia menjadi depresi, dan kesehatannya mulai memburuk. Kemudian, dalam perjalanan ke rumah sakit, ia didiagnosa menderita kanker esofagus, yang pada masa itu adalah suatu penyakit tidak dapat diobati. ”

Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa guru taiji  lain yang dicela secara terbuka dalam periode yang sama adalah Yang Yuting, guru Wang Peisheng. Cerita seperti ini umum di antara guru yang hidup di masa itu – tapi mungkin lebih baik itu menjadi subjek untuk cerita yang lain.

Sumber : http://read.sportpaper.cn/zhwsmag/html/2011-06/02/content_213003.htm