Catatan dari seorang sahabat.‎​ Menurut saya isinya sangat menarik sehingga saya meminta ijin untuk mem-posting tulisannya di blog saya ini🙂

 

*****Catatan Desember 2011****
By: Priska DH

Saya rasa,
Tuhan pasti sangat sibuk di bulan Desember.

Mungkin banyak orang mengetuk pintu surga dan berkata,”Permisi, Tuhan. Boleh saya minta tolong….?”

Anak anak berdoa meminta kado Natal, para panitia gereja berdoa supaya perayaan Natal berlangsung lancar dan sukses, para karyawan berdoa supaya bonus akhir tahun bisa keluar, dan tidak ketinggalan para sales, berdoa supaya target tahunannya tercapai (termasuk saya, hehe… Ngaku.com).

Dari semua doa tersebut, ada sebuah doa nyata yang dilakukan oleh Top, seorang anak muda berusia 19 tahun di Thailand, yang berhasil mendirikan pabrik, kemudian memasok produksi pabriknya hingga ke 27 negara, termasuk Indonesia, dalam tempo hanya 7 tahun.
Catatan: ia melakukannya tanpa bantuan financial ortunya.

Saya tidak akan percaya kisah ini kalau tidak menyaksikan sendiri film The Billionaire.
Awalnya dengan sikap skeptis, saya memilih film tersebut.
Ah, paling film ABG Korea yang hura hura gitu, pikir saya.
Ketika di detik detik pertama film itu berbahasa Thailand, saya sudah mau mengajak suami saya keluar dari bioskop.
Busyet, benar benar salah pilih film, pikir saya.
Film Thailand gitu loh.
Untung saja saya akhirnya tetap menempelkan pantat saya di kursi di menit menit selanjutnya.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi saya bila saya menghadapi masalah dan tantangan seperti yang dialami Top. Saya mungkin sudah ampun ampunan menyerah dan memiliki sejuta alasan untuk berhenti berjuang.
(Dan kalau dia berhenti berjuang, hari ini kita mungkin tidak akan bisa mencicipi enaknya snack rumput laut buatan si Top ini).

Saya lalu ingat kisah Merry Riana dalam buku ‘Mimpi Sejuta Dollar’nya.
Albertha, si pengarang biografi, dengan piawai membawa kita dalam kisah awal awal perjuangan Riana di Singapura sampai ia berhasil menjadi Milyarder. Diceritakan, Riana di awal tahun, sering harus menahan lapar, sangkin harus berhemat untuk kuliah. Dia juga kerja serabutan mulai dari pembagi brosur, waitress hotel, sampai jadi agen asuransi. Kisahnya menyentuh, natural, dan sangat menginspirasi.

Lalu apa bedanya kita dengan para pemenang seperti Top, Riana, atau Kolonel Sanders yang mulai usahanya di usia 60 an dengan gigih ?

Saya berdiam diri.
Mengoreksi hati.
Lalu suara kecil saya berbisik, Hmmm……bedanya, ya Priska, well, mungkin karena kamu lebih cepat menyerah dibanding mereka.
Mungkin… Ya, cuma itu saja.

Dan saya lalu melihat kalender, 2011…. Sebentar lagi akan berakhir.
Target saya masih jauh.
Alamak…!
Tapi …. saya masih punya waktu. Saya masih bisa berusaha.
Tiap detik itu berharga…!

Terima kasih pada Blitz yang memasok film bagus seperti The Billionaire.
Kita, pada orang muda, juga para senior, bisa belajar banyak dari kisah nyata tersebut. Inilah film yang seharusnya ditonton oleh anak anak kita.
Tentang semangat untuk bertahan dan terus berjuang.
Dan untuk percaya, orang muda juga bisa kaya raya!

Buat saya pribadi,
Saya belajar, bahwa menjadi agen asuransi bukanlah pekerjaan tersulit, tapi tetap bertahan dan memperjuangkan impian kita, apapun impian luhur tersebut, itulah pekerjaan yang paling sulit.
Tidak mudah, tapi berharga untuk dilakukan……

Nb:
Mengutip tulisan seorang teman,
“…. Bukan hanya soal mencapai target atau tidak, apapun hasilnya, jika kita tetap berjuang semaksimal mungkin sampai detik terakhir, itulah Pemenang sebenarnya……”

Salam,
Priska Devina H